Valentine’s Day

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Seorang mahasiswa saya di kelas Sejarah
Pemikiran Ekonomi menulis dalam paper akhir-nya, bahwa kapitalisme
harus dipahami sebagai sebuah modus eksistensi. Sebuah cara hidup
untuk eksis, more than just merely mode of production seperti
yang dikatakan oleh Karl Marx. Itulah sebabnya –dengan hubungan
antar manusia yang disimplifikasikan secara sederhana sebagai
hubungan buruh dan pemodal-, ramalan Marxis terhadap perjalanan
kapitalisme dalam sejarah lebih banyak menemui kegagalan.

Bahwa kapitalisme berhasil
mentransformasikan diri menjadi supreme ideology, dengan
paham-paham lain yang mencoba menantangnya akhirnya bahkan hanya
menjadi sebuah sub-ideologi di bawah bendera kejayaan kapitalisme,
antara lain nampak sekali dalam bagaimana modal membentuk citra akan
hari Valentine.

Bayangkan, ketika sebuah nilai emosi
seperti kasih sayang berubah menjadi sebuah komoditi. Hampir seluruh
agen-agen dalam sistem ini bekerja keras membentuk citra Valentine
untuk dapat menuai profit dari penjualan “komoditi” ini secara
maksimum. Tak terbilang produk-produk inovatif yang tercipta
menyambut momen ini, termasuk yang intangible seperti atmosfir
valentine di café-café dan acara televisi.

Kemampuan inovasi dan akulturasi dengan
nilai-nilai (values) bahkan juga nilai yang lekat dengan emosi
dan bernuansa spiritual, memang adalah salah satu intisari yang
menjawab pertanyaan kenapa kapitalisme dapat terus mengembangkan
diri. Akhirnya tanpa kita sadari, kepentingan modal lah yang pada
ujungnya menjadi muara dari segenap tindakan kita, bahkan dari
segenap nilai-nilai yang kita perjuangkan. Kapitalisme telah menjadi
sebuah modus eksistensi. Untuk hidup, untuk eksis, untuk
beraktualisasi diri, kita tergantung pada kepentingan modal.

Saya menghabiskan “malam Valentine”
semalam dengan rekan-rekan volunteer WWF. Awalnya rapat persiapan
akhir di Bakoel Coffe Cikini untuk acara kampanye hemat energi minggu
depan. Tapi akhirnya nongkrong sambil lesehan dan makan nasi goreng
di depan TIM. Malam yang menyenangkan, penuh dengan obrolan seru dan
gelak tawa. Quite refreshing setelah beberapa hari terakhir
sibuk dengan proposal riset, cari bahan buat nulis di jurnal,
persiapan ngajar (minggu kemaren diminta jadi dosen tamu di Fisip UI
tentang masalah pengukuran kemiskinan), dan ngerjain laporan
penelitian. Sempat terpikir untuk mengirim SMS Valentine (gombal) ke
beberapa gebetan berisi rayuan maut ala Joko (hehe..), tapi untung
lah dari tadi siang Xplor gw udah overlimit (lagi, kesekian kalinya
bulan ini! Gosh!!), gak bisa keluar, sehingga selamat deh dari
jebakan kapital…haha….

3 Responses to “Valentine’s Day”

  1. Marshel Says:

    Wetzz keren deh abang joko ini.Pgn deh liat2 paper2 spe yg lain…psti hebat2 deh!Analisis yg juga bagus.Yang ku tau psti dpt kulakukan klo aku jg jd peneliti hahaha.Ini dia yg kusuka dari ekonomi…sebuah ilmu sosial yg sgt dekat dgn kehidupan sehari-hari yg rumit. Bagaimana memuaskan kebutuhan tak terbatas dgn resources yg terbatas.Itu kan hidup hahaha.Wah bang…tapi kalo soal cinta sih itu jgn seratus persen dikorelasikan dgn kepentingan modal lah.Kesannya gak tulus aja hahaha.Wlpn gk gt paham mksd blog di atas hehehe.
    Yah menurut perfect competitionny adam smith sh ada invisble hand.Itu kan soooo capitalism.Walaupun kita pny modal dan bersaing secara fair.Tp tetep aja yg mengatur shg mencapai sebuah kesepakatan yang ideal menurut pasar.Bang, bisa gak korelasiin ini juga ke tesis abang yg dia atas.
    Wah aku lbh suka counter opini orang nih…krn ide2 itu byk berkeliaran di kepala tp gk sistematis jd rd susah dikeluarin.Ntar kalo udah ada kita bs bahas topik itu kan bang.
    Hehehe enaknya ekonomi yah itu bener2 kyk teori hegel yg aku bkn di paper.ad tesis, antitesis dan sintetetis lalu terus begitu.Terjadi turbulensi shg menjadi dinamis, gk statis, dan pastiny menarik, juga bkn puyeng hehehe.Spt stastistik sebuah hasil gak ada yg menerima Ho kan …yg ada menolak dan tdk ckp bukti utk menolak.Ambiguitas dan kerelatifan yg membuat adanya progress yg positif dlm penciptaan dunia lbh baik dr sebelumny.
    oh yah ternyata bener apa yg di blg edo mahendra…abang luar n dalamnya beda bhuahahaha…yg ptg sik asik aja lah booo

  2. Berly-full Says:

    It is love that must be understood as mode of existance.

    Love only yourself and you are a capitalist.

    Love also your neighbours and the needy and you are a socialist.

    Love also the natural surrounding and you are an environmentalist.

    but if you extent your love to the beginning and the end by loving the source of all love itself, then you are a true lover.

  3. joko Says:

    hehe..thx for the comment. happy Valetine for everybody! (lho…?):p

Leave a Reply