Archive for February, 2006

JOmblo, the movie

Sunday, February 19th, 2006

huahaha…Jomblo, the movie. Lucu..lucu. Menyegarkan. Apalagi akting yang meranin karakter Bimo. Natural banget. Sayang si olip dan doni aktingnya terlalu jaim. padahal si olif diceritakan berasal dari Tarnus tuh, hehe.  Jadi inget masa-masa kuliah dulu. Waktu di asrama, kost 3dara (kutek). Those best times..so memorable.

Friendship vs love. Isu klasik itu yang ingin diusung film ini (dan juga bukunya). BAca bukunya pas kuliah tingkat 4, sSejak awal emang udah gak suka sama endingnya. Masa persahabatan bubar cuma karena cewek? c’mon man. Mengecewakan. Bukan laki-laki sejati. Ada kode etik dalam mendekati cewek. Jangan pernah sekalipun main api, ngedeketin:

1. Pacarnya sahabat

2. Gebetan/pujaan hati sahabat

3. Mantannya sahabat

4. Adiknya sahabat (kalo ini masih boleh lah kalo emang mau serius)

Ngorbanin perasaan temen (sahabat ya..), cuma buat seorang cewek, itu pantangan no 1. Kmu boleh se-playboy apapun, segila apapun, asal jangan nyentuh pantangan di atas. Kalo terpaksa muncul benih2 asmara, bunuh perasaan itu dari awal. Masih banyak kok cewek yg lain….:). So, kembali ke film, karakter si doni itu emang tipe penjahat sejati. Tidak ada nilainya sama sekali.

Anyway, film yang bagus. highly recommended.

Valentine’s Day

Monday, February 13th, 2006

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Seorang mahasiswa saya di kelas Sejarah
Pemikiran Ekonomi menulis dalam paper akhir-nya, bahwa kapitalisme
harus dipahami sebagai sebuah modus eksistensi. Sebuah cara hidup
untuk eksis, more than just merely mode of production seperti
yang dikatakan oleh Karl Marx. Itulah sebabnya –dengan hubungan
antar manusia yang disimplifikasikan secara sederhana sebagai
hubungan buruh dan pemodal-, ramalan Marxis terhadap perjalanan
kapitalisme dalam sejarah lebih banyak menemui kegagalan.

Bahwa kapitalisme berhasil
mentransformasikan diri menjadi supreme ideology, dengan
paham-paham lain yang mencoba menantangnya akhirnya bahkan hanya
menjadi sebuah sub-ideologi di bawah bendera kejayaan kapitalisme,
antara lain nampak sekali dalam bagaimana modal membentuk citra akan
hari Valentine.

Bayangkan, ketika sebuah nilai emosi
seperti kasih sayang berubah menjadi sebuah komoditi. Hampir seluruh
agen-agen dalam sistem ini bekerja keras membentuk citra Valentine
untuk dapat menuai profit dari penjualan “komoditi” ini secara
maksimum. Tak terbilang produk-produk inovatif yang tercipta
menyambut momen ini, termasuk yang intangible seperti atmosfir
valentine di café-café dan acara televisi.

Kemampuan inovasi dan akulturasi dengan
nilai-nilai (values) bahkan juga nilai yang lekat dengan emosi
dan bernuansa spiritual, memang adalah salah satu intisari yang
menjawab pertanyaan kenapa kapitalisme dapat terus mengembangkan
diri. Akhirnya tanpa kita sadari, kepentingan modal lah yang pada
ujungnya menjadi muara dari segenap tindakan kita, bahkan dari
segenap nilai-nilai yang kita perjuangkan. Kapitalisme telah menjadi
sebuah modus eksistensi. Untuk hidup, untuk eksis, untuk
beraktualisasi diri, kita tergantung pada kepentingan modal.

Saya menghabiskan “malam Valentine”
semalam dengan rekan-rekan volunteer WWF. Awalnya rapat persiapan
akhir di Bakoel Coffe Cikini untuk acara kampanye hemat energi minggu
depan. Tapi akhirnya nongkrong sambil lesehan dan makan nasi goreng
di depan TIM. Malam yang menyenangkan, penuh dengan obrolan seru dan
gelak tawa. Quite refreshing setelah beberapa hari terakhir
sibuk dengan proposal riset, cari bahan buat nulis di jurnal,
persiapan ngajar (minggu kemaren diminta jadi dosen tamu di Fisip UI
tentang masalah pengukuran kemiskinan), dan ngerjain laporan
penelitian. Sempat terpikir untuk mengirim SMS Valentine (gombal) ke
beberapa gebetan berisi rayuan maut ala Joko (hehe..), tapi untung
lah dari tadi siang Xplor gw udah overlimit (lagi, kesekian kalinya
bulan ini! Gosh!!), gak bisa keluar, sehingga selamat deh dari
jebakan kapital…haha….