Archive for September, 2005

My Love to come…

Saturday, September 24th, 2005

As is the case of textbook or chili, LOVE is hopefully better the second time around. Now I’m consider my self to be very lucky for had been living through the so-thoughtful love experiences elapsed. So I am happy at the moment to declare that I feel so secure about this ‘ancient feeling’, even though currently none of those emotion distinctively refers to one specific soul-being…

……….

Fitri & dodi, my very nice officemates, had been successfully poisoning me with the beauty of Stevie Wonders’s “Isn’t she lovely” and “Overjoyed”, but still I couldn’t figure out for whom their lyrics will be dedicated. I made a nice gift to someone, but to be very honest, I am not too convinced yet to take any steps further afterward. There are few attractive platonic relationships, but they should not deem to be that serious whatsoever. However, quite strangely, I enjoy the situation pretty well…

………

I think maybe love is just another reality in life…For which we do ask questions, challenging its mysteries, enigmas, puzzles; and subsequently we find the patterns, from which we make inference….(to be is to be perceived?). And again, succeeding inference I believe would produce better result, at least with less statistical errors :p.

…………

SunsetSo, as some part of Bill Whither’s saying, that on this window down the hall, I still hear the crystal raindrops fall (and then I see the morning sun)…; My Love is truly will be much better the second time to come…..

Natalie….

Friday, September 9th, 2005

Deep condolences to all family and friends of the victims of Mandala plane crash occurred in Medan, 5 Sept 2005, especially for relatives of my very dear friend, Natalia Magdalena Sitanggang. She was among the victims of the so tragic accident, and I almost could not forgive my self not for having such an intense contact with her since she was graduated a year ago.

I was terribly shocked, deeply miserable to hear the news; …. just cannot believe that young brilliant sweet nice girl had leaving us earlier, out of the blue. Natalie (or Natsi she was popularly called), was my junior in SMU Taruna Nusantara Magelang. She was renowned for her tough and discipline. She was member of Tonpara (Paskibra), the school’s elite. Afterward she moved on to economics department in University of Indonesia. We’ve been hand in hand running Kanopi, the student’s organization, at that time. She was so exceptional indeed, for her academic achievement in the midst of all her activities. She graduated cum laude!!

Actually she was expected to pursue master degree in France (she gained scholarship from TOTAL, waw, what an accomplishment sis!), and planned to depart on Wednesday(!), two days after the accident happened. Natalie, in her inherently jovial spirit, went to Medan to say goodbye to her families. She was about to celebrate her success together with her beloved in her hometown. On the day the plane was about to crash, she was in a hurry, because she was awaited in campus to sign contract prior to her leaving to France. But God has another plan…..and it was turn out to be the end of her promising short-life.

Goodbye Natalie…God bless you. And we all love you………

Laut….

Saturday, September 3rd, 2005

He2 kemarin lihat petualangan bahari. KEnapa ya setiap melihat laut jantung ini selalu berdebar lebih keras dari biasanya? Ada sesuatu yang bergolak. Ada adrenalin yang dicetak berlebih dalam sesaat. Gw rindu laut. Gunung bikin ngantuk dan buat gw bersin-bersin. Udara laut segar dan ada banyak binatang laut yang enak, lezat, dan berprotein tinggi, hehe.

Mungkin karena ombaknya. Gw suka mendengar suara pecahan ombak di pinggir pantai atau batu karang. Suaranya indah berirama teratur, namun gagah berdentum-dentum. Atau karena suasana malam di pinggir pantai? Sungguh, apapun kondisi bulan di atas sana, duduk di atas pasir pinggir pantai malam2 di bawah nyiur dan diiringi dentuman ombak dengan sahabat2 terbaik mu adalah kondisi paling ideal yang ada di muka bumi untuk berbicara bebas tentang segala hal.

                

Atau bisa jadi juga karena di laut kamu bisa memandang dengan bebas jauh sampai ke batas kaki langit sana. Tanpa terhalang apapun. Tegak menantang. Merasakan kehebatan leluhur gw dulu, yang dengan jiwa dinamis dan keluasan wawasannya, pergi sampai jauh meninggalkan kepicikan sangkar pedalaman, untuk bergulat dengan dunia tanpa batas, sampai akhirnya arus dari utara berbalik dengan dahsyatnya, menggulung nusantara yang tak sanggup menangkal karena sedang dilanda keterpecahan, kedangkalan, dan nafsu saling menguasai di antara sesamanya. Membayangkan kapal-kapal samudera Majapahit berbendera kupu-tarung yang dulu pernah menguasai bumi bagian selatan (Akh, kebanyakan baca Arus Balik!!!haha. Tapi pernah kok dalam suatu momen gw merasakan spirit Senapatiku, Wiranggaleng :p. Waktu berdiri di pinggir laut Tuban, 8 atau 9 bulan yang lalu. Malam-malam. Melihat sisa-sisa pelabuhan laut  Tuban yang kini terlantar. Padahal saking bagusnya pelabuhan alami di sana, Tuban menjadi salah satu tempat pendaratan tentara JEpang di JAwa tahun 1942, selain Eretan Indramayu dan Bojonegara di Banten.).

Tapi gw rasa bukan bikini dan hot-sexy-sunbathing galz yang buat gw rindu sama laut (haha, teman2 gw pasti akan langsung mencibir kalau baca kalimat barusan). TEnang guys, gw bukannya hipokrit. Kalau itu mah di mana-mana juga ada. Tapi kan kita sekarang sedang berbicara soal the decisive factors (cieee..). Gw suka suara dentuman ombak, pasir, kelapa, perasaan bebas saat melontarkan pandangan jauuuhh sampai ke kaki langit, perasaan bergairah ketika berbicara tentang segala hal waktu malam-malam di pinggir pantai.

Ah, gw rindu laut. Pengen merasakan lagi rasa waktu timbul tenggelam dihajar ombak padahal cm pengen menaikinya untuk meluncur sampai pinggir lagi. Pengen ngerasain pasir (gak harus putih kok!) yang menghangatkan di waktu siang dan menyejukkan di waktu malam. Mengagumi keperkasaan Samudera Hindia dari atas karang di savanna Pulau Sumba. Dulu ke Manado gak bisa ke Bunaken karena cuaca buruk, ah sial. Pengen ngerasain lagi udara laut yang segar dan berbau garam. Pengen merasakan goyangan kapal, mendengar sapaan terompet waktu dua kapal berpapasan, kilau keemasan pada riak laut karena terpantul cahaya bulan, merasakan selat Sunda, Gilimanuk-Ketapang, atau Sunda Kelapa-Pontianak lagi. Pengen ke Banda, Maluku, Lombok, Mentawai, Sabang.

Ah, gw rindu laut. Suer.