He2 kemarin lihat petualangan bahari. KEnapa ya setiap melihat laut jantung ini selalu berdebar lebih keras dari biasanya? Ada sesuatu yang bergolak. Ada adrenalin yang dicetak berlebih dalam sesaat. Gw rindu laut. Gunung bikin ngantuk dan buat gw bersin-bersin. Udara laut segar dan ada banyak binatang laut yang enak, lezat, dan berprotein tinggi, hehe.
Mungkin karena ombaknya. Gw suka mendengar suara pecahan ombak di pinggir pantai atau batu karang. Suaranya indah berirama teratur, namun gagah berdentum-dentum. Atau karena suasana malam di pinggir pantai? Sungguh, apapun kondisi bulan di atas sana, duduk di atas pasir pinggir pantai malam2 di bawah nyiur dan diiringi dentuman ombak dengan sahabat2 terbaik mu adalah kondisi paling ideal yang ada di muka bumi untuk berbicara bebas tentang segala hal.
Atau bisa jadi juga karena di laut kamu bisa memandang dengan bebas jauh sampai ke batas kaki langit sana. Tanpa terhalang apapun. Tegak menantang. Merasakan kehebatan leluhur gw dulu, yang dengan jiwa dinamis dan keluasan wawasannya, pergi sampai jauh meninggalkan kepicikan sangkar pedalaman, untuk bergulat dengan dunia tanpa batas, sampai akhirnya arus dari utara berbalik dengan dahsyatnya, menggulung nusantara yang tak sanggup menangkal karena sedang dilanda keterpecahan, kedangkalan, dan nafsu saling menguasai di antara sesamanya. Membayangkan kapal-kapal samudera Majapahit berbendera kupu-tarung yang dulu pernah menguasai bumi bagian selatan (Akh, kebanyakan baca Arus Balik!!!haha. Tapi pernah kok dalam suatu momen gw merasakan spirit Senapatiku, Wiranggaleng :p. Waktu berdiri di pinggir laut Tuban, 8 atau 9 bulan yang lalu. Malam-malam. Melihat sisa-sisa pelabuhan laut Tuban yang kini terlantar. Padahal saking bagusnya pelabuhan alami di sana, Tuban menjadi salah satu tempat pendaratan tentara JEpang di JAwa tahun 1942, selain Eretan Indramayu dan Bojonegara di Banten.).
Tapi gw rasa bukan bikini dan hot-sexy-sunbathing galz yang buat gw rindu sama laut (haha, teman2 gw pasti akan langsung mencibir kalau baca kalimat barusan). TEnang guys, gw bukannya hipokrit. Kalau itu mah di mana-mana juga ada. Tapi kan kita sekarang sedang berbicara soal the decisive factors (cieee..). Gw suka suara dentuman ombak, pasir, kelapa, perasaan bebas saat melontarkan pandangan jauuuhh sampai ke kaki langit, perasaan bergairah ketika berbicara tentang segala hal waktu malam-malam di pinggir pantai.
Ah, gw rindu laut. Pengen merasakan lagi rasa waktu timbul tenggelam dihajar ombak padahal cm pengen menaikinya untuk meluncur sampai pinggir lagi. Pengen ngerasain pasir (gak harus putih kok!) yang menghangatkan di waktu siang dan menyejukkan di waktu malam. Mengagumi keperkasaan Samudera Hindia dari atas karang di savanna Pulau Sumba. Dulu ke Manado gak bisa ke Bunaken karena cuaca buruk, ah sial. Pengen ngerasain lagi udara laut yang segar dan berbau garam. Pengen merasakan goyangan kapal, mendengar sapaan terompet waktu dua kapal berpapasan, kilau keemasan pada riak laut karena terpantul cahaya bulan, merasakan selat Sunda, Gilimanuk-Ketapang, atau Sunda Kelapa-Pontianak lagi. Pengen ke Banda, Maluku, Lombok, Mentawai, Sabang.
Ah, gw rindu laut. Suer.