Archive for July, 2005

keindahan 2

Thursday, July 14th, 2005

Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwa.
Kepadanya cinta diberikan, bukan diminta…

————
(yang ini inget, dari kahlil gibran. Untung belum di-PLAGIAT sama Dhani DEWA!!:>>)

keindahan 1

Thursday, July 14th, 2005

Engkau telah menghiasi hatiku dengan keindahan yang tubuhku tak sanggup menampungnya…

Walau hatiku ingin menyangganya, karena kekuatan dan harapan menjadi pilar-pilarnya.

Tapi ah, sanggupkah aku bersaing dengan para pemburu? yang menginginkan mu walau hanya untuk berbisik di telinga? atau melihatmu dengan mata…

——

(dari sebuah puisi karya sufi abad 13 -namanya lupa! baca waktu kuliah tingkat dua!:p)

Jakarta oh jakarta….

Thursday, July 14th, 2005

Jakarta-jakarta (dengan nada masygul)…kapan sih dikau menjadi lebih beradab pada manusia? Jalan-jalan mu hanya diperuntukkan bagi pengendara mobil pribadi. Pejalan kaki, apalagi pengendara sepeda silakan MINGGIR (harus punya mobil untuk hidup enak di ibukota!! -eits siapa bilang, blm kena macet lu?? :p). Bus-bus kota menebarkan asap hitam seenaknya dari knalpot zaman Perang Korea. Belum lagi tebaran polusi dari bajaj dan motor 2 tak yang sampai ke muka. Masuk ke kampung-kampung, siap2 lah menghadapi ekspresi frustasi warga pemukiman terhadap integritas lingkungannya, melalui sederet polisi tidur setinggi 20 cm di hampir setiap 4 meter jalan yang tersisa.

Jakarta-jakarta (masih masygul)…engkau dibangun dengan modal, bukan dengan manusia. Sempat geram waktu naik angkot di daerah matraman dan harus memutar gara-gara separo jalan ditutup sama warga yang lagi menggelar pertandingan sepakbola! Untung segera tersadar, ini jakarta! Kota dimana gak ada lagi ruang publik yang tersisa. Dimana setiap jengkal tanahnya dibangun mal, pusat perbelanjaan, trade center, dan entah apa lagi namanya. Padahal ruang publik adalah kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Dimana lagi tempat bagi anak2 dan remaja-remajamu untuk tumbuh dengan semangat sportifitas ketika menumpahkan gejolak untuk berolahraga dan berkegiatan dengan ceria? Yang ada hanya mal. Maka tumpahlah mereka kesana. Lalu tergagaplah sebagian besar dari mereka akan dunia gemerlap yang didemonstrasikan di sana.Konsumtif lah jadinya.Limbung oleh kilau semu yang kosong maknanya. Sebagian yang tak mampu hanya frustasi yang ada, dan menumpahkannya pada kolega2nya sesama pelajar melalui perkelahian di jalan raya.

Jakarta-jakarta…Sempet tercenung waktu nonton "Just for Laugh" disebuah tipi swasta. Ber-setting di Quebec, Kanada, warga2nya memiliki sense of humour yang tinggi sekali, untuk tidak marah walau dikerjain di tengah jalan2nya.Bayangkan jika hal yang sama terjadi di Jakarta!! Yang warganya sudah terkuras emosi-nya oleh urban stress yang luar biasa. Yang juga telah terkuras psikisnya untuk selalu waspada di tengah kehidupan serba keras dan tidak aman di ibukota.

Jakarta, padahal di abad 19 dikau sempat jadi metropolitan no-4 di asia (setelah tokyo, shanghai, dan singapura). Waktu manila masih rawa-rawa dan kuala lumpur belum lagi terbuka. Engkaulah salah satu kota pertama di asia (!) yang memasang trem listrik sebagai sarana transportasi warganya, dan kawat telegraf untuk komunikasi orang2nya.

Duh! cm pengen bisa naik sepeda onthel yang seksi keliling jakarta atau untuk berangkat kerja. Tanpa khawatir ditabrak rombongan harley yang sok jagoan dikawal mobil patroli segala (bangsat!!), tanpa dipandang sebelah mata oleh cewek-cewek (yang sayangnya sexy nian..) yang hanya berorientasi materi belaka, atau diganggu oleh preman-preman (baik kelas teri di pasar2/kereta -balikin HP gua!!!!!- sampe preman2 berdasi sontholoyo ala adiguna atau tommy winata) yang semakin berkuasa aja di jakarta (dapet proyek di aceh pula).

Jakarta..udah otonomi daerah juga masih tetap jadi impian setiap pemuda yang ingin mengadu nasibnya. Berat nian daya dukungmu ini..socially and ecologically. Sampe kapan dikau bisa bertahan???? Sialnya, ngapain sih gw masih di sini????!! :)