Dari Rujak Cingur sampai Patin Mahakam..lalu ke Udang Tarakan
August 16th, 2006 by jtraharjoBagian paling
menarik dari suatu perjalanan adalah mempelajari kebudayaan, dan kebudayaan antara
lain tercermin dari makanan. Suatu kebudayaan yang kuat pasti memiliki cita
rasa makanan yang khas, buah dari tradisi panjang, entah karena alasan-alasan survival
sampai pada alasan kultural; bahwa makanan adalah cermin dari sejarah dan
karakteristik masyarakat itu sendiri. Untuk alasan inilah saya sangat bergairah
memaparkan petualangan kuliner saya ketika berkesempatan mengunjungi beberapa
daerah dalam sebulan terakhir (alasan yang cukup enak dan mengenyangkan
sebetulnya, hehe).
Jawa Timur, Dinamis dan Segar
Mari kita lihat Surabaya.
Disana ada sederet makanan yang benar-benar khas. Kota yang lezat dan penuh cita rasa menurut
penilaian saya. Pertama tentu ada Rujak Cingur. Kombinasi bumbu petis yang dipadu
dengan sayur dan buah-buahan serta tak lupa sejumput daging sapi menawarkan
kesegaran yang menantang, persis seperti watak Arek Suroboyo yang blak-blakan
dan apa adanya. Terlalu berlebihan analoginya? Hehe mungkin iya. Tapi kesan itu
tak mudah lepas terutama ketika kita melanjutkan petualangan ini dengan
mencicipi aneka hidangan berikut. Tahu Tek, Nasi Campur, Tahu Campur, dan
Lontong cap Go Meh. Hmmm…segar, tetap spicy seperti laiknya makanan Indonesia
pada umumnya, ditimpali rasa pedas yang menggairahkan. Benar-benar mewakili sosok Arek Suroboyo yang
selalu optimis, terbuka, dan dinamis. Cita rasa yang kuat ini tetap melekat di
seantero Jawa Timur. Kota-kota seperti Malang, Lamongan, Madura,… semua punya
makanan kebanggaan yang khas. Budaya Jawa Timur memang kuat dan memiliki
sejarah yang panjang.
Samarinda, kota pendatang…
Terbiasa dengan
kesan ini, terus terang ekspektasi saya menjadi agak berlebih ketika kemudian
terus pergi ke Kalimantan. Samarinda menjadi tujuan pertama saya. Perjalanan
dengan transportasi udara dari Jakarta membutuhkan waktu 2 jam. Namun berhubung
tidak ada bandara di Samarinda yang memadai untuk memuat pesawat sekelas Boeing
737, maka saya harus mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan (bandara yang
cantik!), untuk lalu menempuh perjalanan darat selama 3 jam melewati Hutan
Lindung Bukit Soeharto untuk sampai di Samarinda. Heran, ibu kota propinsi kok gak ada
bandara yang representatif. Jauh
kalah ramai dan maju dibandingkan Balikpapan. Sungguh, ibu kota yang aneh….
Nah, singkat
cerita, begitu tiba di Samarinda, hal pertama yang saya tanyakan pada local
researcher yang menemui saya di hotel adalah: apa makanan khas Samarinda? (tentunya
sambil mengajak dia makan siang). Jawabannya sungguh mengejutkan sekaligus menggelikan:“…hmm..apa ya? Coto
Makasar?“ Hahaha…saya terbahak. Makanan khas Samarinda kok Coto Makasar?
Itu sih sama aja dengan makan Bika Ambon khas Medan di Bekasi…p. Dari situlah
keyakinan saya semakin terbentuk, bahwa memang terdapat korelasi yang erat
antara makanan khas di suatu daerah dengan sejarah, budaya, dan karakteristik
masyarakat yang bersangkutan.
Ternyata
Samarinda memang nyaris tidak punya akar tradisi lokal yang khas. Menurut
cerita sang local researcher (ini versi dia ya, bukan versi sejarah resmi yang
saya tidak tahu), kota ini baru dibangun ketika Kesultanan Kutai menghadiahkan
sebidang tanah kepada sekelompok pendatang dari Bugis, katanya sih untuk
tujuan2 militer, yaitu untuk mengamankan Kesultanan dari serangan dari laut/Delta
Mahakam (tahun 1800-an?). Ini terlihat juga dari letak geografis Samarinda
sekarang yang memang dikepung wilayah Kab. Kutai dari segala penjuru. Makanya
sampai sekarang 40 % penduduk Samarinda adalah orang Bugis. 40 % nya lagi orang
Jawa. Sisanya Ambon, Sulawesi, Batak, dan suku Banjar serta Dayak sendiri yang
jadi minoritas. Ini adalah kota pendatang.
Terus terang saya
jadi agak kecewa dengan fenomena ini. Berada di Samarinda, ibukota Kalimantan
Timur yang luas provinsinya setara dengan satu setengah kali Pulau Jawa, yang
seharusnya memiliki budaya sungai yang khas karena dibelah oleh Sungai Mahakam
dengan lebar lebih dari satu kilometer dan panjang sungai yang bisa dilayari
kapal besar sampai 900 km (!) ke arah hulu, saya seperti berada di Depok atau
kota-kota menengah lain di Jawa. Bahasanya, dialeknya, nama orang-orangnya,
adat istiadatnya, gak ada sesuatu yang khas dan unik yang bisa kita pelajari.
Sarung Samarinda yang terkenal itu aja udah semakn susah carinya. Bahkan
katanya
sekarang banyak yang buat di Jawa, lalu dijual di Tanah Abang seharga
25 ribuan. Buseeettt…Well, sementara saya harus puas denga Coto
Makasar ala Samarinda. Dimakan
dengan buras atau ketupat. Hmmm..lumayan lezat juga sih..Nah, ini fotonya…masih
mengepul hangat..:)
Kekecewaan saya sedikit terobati ketika malamnya
nemu tempat makan ikan bakar yang enak.
Hmm..udah lama saya mendengar kelezatan IKAN PATIN alami asli dari Sungai
Mahakam. Waktu di Surabaya saya sempet menccip ikan Patin bakar, di daerah
Ketintang, belakang Menara Pena kantor grup Ja
wa Pos. Di situ enak, tapi emang
rasa ikan alami asli dari habitatnya jelas jauh beda dengan hasil penangkaran. Ini
Patin Mahakam bung!!! (hehe biasa aja donk ah..). Daging putihnya lebih empuk,
lunak, lebih besar dan lebih lezat tentunya…Nyam Nyam.. Saking enaknya sampe gak sempet foto2. Inget foto pas besoknya, namun menunya udah ganti donk . Sekarang makan bawal, baronang, kerapu, dan sejenisnya…mm…enak juga..:)
Tarakan, Pearl Harbornya Indonesia…
Gak kerasa sampe juga di Tarakan, satu jam
dari Balikpapan. Dari sini pake pesawat 50 menit lagi ke arah barat daya udah
sampe tawau, perbatasan Malaysia. Orang sini klo weekend maennya ke Malaysia
lho..(sempet dikasitau istilah2 malaysia yg lucu2: rapat darurat=rapat
tergempar, rumah bersalin=rmah korban laki-laki, dan push up=bersetubuh dengan
tanah, hahahaha..gile orang malaysia otaknya ngeres2 ye..). Nah, kalau pake
speedboat, bisa maen ke banyak tempat yg bagus2. tapi yang terkenal itu Pulau
Derawan, dengan penangkaran penyu nya (ada villa nya Soeharto & Bob Hasan juga lho disitu..).
Berbeda dengan Samarinda, di sini suku asli setempat masih cukup mendominasi.
Namanya suku Tidung. Bahkan Walikota Tarakan sekarang, dokter Yusuf, yang baru
aja dapet Otonomi Award, juga putra asli suku Tidung. Tarakan ini pulau kecil
di utara Kalimantan seluas kira-kira DKI Jakarta. Kaya minyak, batu bara, dan
menempati posisi strategis untuk lalu lintas Pasifik, makanya sempat jadi arena
pertempuran dahsyat antara Jepang vs Sekutu waktu PD II. Sampe sekarang di
pinggir bandara dan pantai2nya masih banyak bunker dan meriam2 bekas
peninggalan Jepang.
Trus pulau ini juga jadi pangkalan TNI AL
dan TNI AU. Ada Lanud yang siap pakai, mendukung lanud Balikpapan tempat
mangkal dua F-16 kita (mash bisa terbang gak ya? Hehe..). Waktu saya
kesana ada bakti sosial dari US Navy. Beberapa km dari pantai nangkring satu
kapal tempur Amrik segede gaban, nurunin beberapa sekoci dokter dan tentara
berpakaian sipil. Sempet ngobrol sma driver lokal yang disewa buat nganterin
mereka. Katanya tentara sipilnya pada bawa alat GPS yang bisa ngirim kordinat
ke satelit. Dasar, bisa aja tu
amerika nyamarin baksos untuk kegiatan intelijen. Sori-sori, bukannya
ngelantur, ini Cuma buat nunjukin betapa strategisnya posisi Tarakan sebagai
gerbang utara Indonesia sekaligus transit point di medan Pasifik, sampe amerika
bela2in nyamar2 segala.
OK
kembali ke topik. Nah berhubung ini kota pulau, jelas makanan laut akan menjadi
sajian yang utama.
Dan untuk itu, percayalah saudara-saudara…Tarakan sangat
tidak mengecewakan!!! Kalau
dateng kesini, sempatkanlah mencicipi yang namanya
Warung Makan Kepiting Saos dan Pantai Amal. Sayang sekali kemaren gak sempet
mencicipi kelezatan kepiting saos ala Tarakan yang legendaris, tapi masih
sempet lah nyicipin hidangan seafood di pantai Amal yang panas tapi damai.
Coba
liatin hidangan yang disajikan di kedai sederhana tepat di pinggir pantai ini. Hmm…udang dan kerang lokal (namanya Kapah) yang segar hasil tangkapan tadi
pagi yang dibakar dan digoreng lengkap dengan saos kacang dan sambal. Minumnya es kelapa muda hijau yang baru
dipetik. Nyam Nyam. Udangnya gede2 banget kan?Beli kiloan, makan bertujuh sampe
mabok Cuma abis 200 rb-an!!
Terus apa kaitannya antara makanan Tarakan
dengan sejarah serta budaya lokal? Apa ya. Selain nunjukin ciri maritim plau
ini, bingung gw. Maaf ya pembaca, bukan maksud saya untuk tidak konsisten dengan
outline dan tujuan penulisan, tp Udah kelamaan ngetik dan upload foto nih jadi
males mikir, hehe. Lagipula ngomongin makan mulu jadi laper…belum makan siang
nih. Hmm…makan apa ya.?:):)
Okey,
sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya!


