Dari Rujak Cingur sampai Patin Mahakam..lalu ke Udang Tarakan

August 16th, 2006 by jtraharjo

Bagian paling
menarik dari suatu perjalanan adalah mempelajari kebudayaan, dan kebudayaan antara
lain tercermin dari makanan. Suatu kebudayaan yang kuat pasti memiliki cita
rasa makanan yang khas, buah dari tradisi panjang, entah karena alasan-alasan survival
sampai pada alasan kultural; bahwa makanan adalah cermin dari sejarah dan
karakteristik masyarakat itu sendiri. Untuk alasan inilah saya sangat bergairah
memaparkan petualangan kuliner saya ketika berkesempatan mengunjungi beberapa
daerah dalam sebulan terakhir (alasan yang cukup enak dan mengenyangkan
sebetulnya, hehe).


Jawa Timur, Dinamis dan Segar

Mari kita lihat Surabaya.
Disana ada sederet makanan yang benar-benar khas. Kota yang lezat dan penuh cita rasa menurut
penilaian saya. Pertama tentu ada Rujak Cingur. Kombinasi bumbu petis yang dipadu
dengan sayur dan buah-buahan serta tak lupa sejumput daging sapi menawarkan
kesegaran yang menantang, persis seperti watak Arek Suroboyo yang blak-blakan
dan apa adanya. Terlalu berlebihan analoginya? Hehe mungkin iya. Tapi kesan itu
tak mudah lepas terutama ketika kita melanjutkan petualangan ini dengan
mencicipi aneka hidangan berikut. Tahu Tek, Nasi Campur, Tahu Campur, dan
Lontong cap Go Meh. Hmmm…segar, tetap spicy seperti laiknya makanan Indonesia
pada umumnya, ditimpali rasa pedas yang menggairahkan. Benar-benar mewakili sosok Arek Suroboyo yang
selalu optimis, terbu
ka, dan dinamis. Cita rasa yang kuat ini tetap melekat di
seantero Jawa Timur. Kota-kota seperti Malang, Lamongan, Madura,… semua
punya
makanan kebanggaan yang khas. Budaya Jawa Timur memang kuat dan memiliki
sejarah yang panjang.

Samarinda, kota pendatang…

Terbiasa dengan
kesan ini, terus terang ekspektasi saya menjadi agak berlebih ketika kemudian
terus pergi ke Kalimantan. Samarinda menjadi tujuan pertama saya. Perjalanan
dengan transportasi udara dari Jakarta membutuhkan waktu 2 jam. Namun berhubung
tidak ada bandara di Sa
marinda yang memadai untuk memuat pesawat sekelas Boeing
737, maka saya harus mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan (bandara yang
cantik!), untuk lalu menempuh perjalanan darat
selama 3 jam melewati Hutan
Lindung Bukit Soeharto untuk sampai di Samarinda.
Heran, ibu kota propinsi kok gak ada
bandara yang representatif. Jauh
kalah ramai dan maju dibandingkan Balikpapan. Sungguh, ibu kota yang aneh….

 

Nah, singkat
cerita, begitu tiba di Samarinda, hal pertama yang saya tanyakan pada local
researcher yang menemui saya di hotel adalah: apa makanan khas Samarinda? (tentunya
sambil mengajak dia makan siang). Jawabannya sungguh mengejutkan sekaligus
menggelikan:“…hmm..apa ya? Coto
Makasar?
“ Hahaha…saya terbahak. Makanan khas Samarinda k
ok Coto Makasar?
Itu sih sama aja dengan makan Bika Ambon khas Medan di Bekasi…p. Dari situlah
keyakinan saya semakin terbentuk, bahwa memang terdapat korelasi yang erat
antara makanan khas di suatu daerah dengan sejarah, budaya, dan karakteristik
masyarakat yang bersangkutan.

 

Ternyata
Samarinda memang nyaris tidak punya akar tradisi lokal yang khas. Menurut
cerita sang local researcher (ini versi dia ya, bukan versi sejarah resmi yang
saya tidak tahu), kota ini baru dibangun ketika Kesultanan Kutai menghadiahkan
sebidang tanah kepada sekelompok pendatang
dari Bugis, katanya sih untuk
tujuan2 militer, yaitu untuk mengamankan Kesultanan dari serangan dari laut/Delta
Mahakam (tahun 1800-an?). Ini terlihat juga dari letak geografis Samarinda
sekarang yang memang dikepung wilayah Kab. Kutai dari segala penjuru. Makanya
sampai sekarang 40 % penduduk Samarinda adalah orang Bugis. 40 % nya lagi orang
Jawa. Sisanya Ambon, Sulawesi, Batak, dan suku Banjar serta Dayak sendiri yang
jadi minoritas. Ini adalah kota pendatang.

 

Terus terang saya
jadi agak kecewa dengan fenomena ini. Berada di Samarinda, ibukota Kalimantan
Timur yang luas provinsinya setara dengan satu setengah kali Pulau Jawa, yang
se
harusnya memiliki budaya sungai yang khas karena dibelah oleh Sungai Mahakam
dengan lebar lebih dari satu kilometer dan panjang sungai yang bisa dilayari
kapal besar sampai 900 km (!) ke arah hulu, saya seperti berada di Depok atau
kota-kota menengah lain di Jawa. Bahasanya, dialeknya, nama orang-orangnya,
adat istiadatnya, gak ada sesuatu yang khas dan unik yang bisa kita pelajari.
Sarung Samarinda yang terkenal itu aja udah semakn susah carinya. Bahkan
katanya
Coto_makasar_1sekarang banyak yang buat di Jawa, lalu dijual di Tanah Abang seharga
25 ribuan.
Buseeettt…Well, sementara saya harus puas denga Coto
Makasar ala Samarinda. Dimakan
dengan buras atau ketupat. Hmmm..lumayan lezat juga sih..Nah, ini fotonya…masih
mengepul hangat..:)

 

 

Kekecewaan saya sedikit terobati ketika malamnya
nemu tempat
makan ikan bakar yang enak.
Hmm..udah lama saya mendengar kelezatan IKAN PATIN alami asli dari Sungai
Mahakam. Waktu di Surabaya saya sempet menccip ikan Patin bakar, di daerah
Ketintang, belakang Menara Pena kantor
grup JaKerapu_danbaronang_1wa Pos. Di situ enak, tapi emang
rasa ikan alami asli dari habitatnya jelas jauh beda dengan hasil penangkaran. Ini
Patin Mahakam bung!!! (hehe biasa aja donk ah..). Daging putihnya leb
ih empuk,
lunak, lebih besar d
an lebih lezat tentunya…Nyam Nyam.. Saking enaknya sampe  gak sempet foto2. Inget foto pas besoknya, namun menunya udah ganti donk . Sekarang makan bawal, baronang, kerapu, dan sejenisnya…mm…enak juga..:)

Tarakan, Pearl Harbornya Indonesia…

Gak kerasa sampe juga di Tarakan, satu jam
dari Balikpapan. Dari sini pake pesawat 50 menit lagi ke arah barat daya udah
sampe tawau, perbatasan Malaysia. Orang sini klo weekend maennya ke Malaysi
a
lho..(sempet dikasitau istilah2 malaysia yg lucu2: rapat darurat=rapat
tergempar, rumah bersalin=rmah korban laki-laki, dan push up=bersetubuh dengan
tanah, hahahaha..gile orang ma
laysia otaknya ngeres2 ye..). Nah, kalau pake
speedboat, bisa maen ke banyak tempat yg bagus2. tapi yang terkenal itu Pulau
Derawan, dengan penangkaran penyu nya (ada villa nya Soeharto & Bob Hasan juga lho disitu..).


Berbeda dengan Samarinda, di sini suku asli setempat masih cukup mendominasi.
Namanya suku Tidung. Bahkan Walikota Tarakan sekarang, dokter Yusuf, yang baru
aja dapet Otonomi Award, juga putra asli suku Tidung. Tarakan ini pulau kecil
di utara Kalimantan seluas kira-kira DKI Jakarta. Kaya minyak, batu bara, dan
menempati posisi strategis untuk lalu lintas Pasifik, makanya s
empat jadi arena
pertempuran dahsyat antara Jepang vs Sekutu waktu PD II. Sampe sekarang di
pinggir bandara dan pantai2nya masih banyak bunker dan meriam2 bekas
peninggalan Jepang.


Trus pulau ini juga jadi pangkalan TNI AL
dan TNI AU. Ada Lanud yang siap pakai, mendukung lanud Balikpapan tempat
mangkal dua F-16 kita (mash bisa terbang gak ya?
Hehe..). Waktu saya
kesana ada bakti sosial dari US Navy. Beberapa km dari pantai nangkring satu
kapal tempur Amrik segede gaban, nurunin beberapa sekoci dokter dan tentara
berpakaian sipil. Sempet ngobrol sma driver lokal yang disewa buat nganterin
mereka. Katanya tentara sipilnya pada bawa alat GPS yang bisa ngirim kordinat
ke satelit. Dasar, bisa aja tu
amerika nyamarin baksos untuk kegiatan intelijen.  Sori-sori, bukannya
ngelantur, ini Cuma buat nunjukin betapa strategisnya posisi Tarakan sebagai
gerbang utara Indonesia sekaligus transit point di medan Pasifik, sampe amerika
bela2in nyamar2 segala.

OK
kembali ke topik. Nah berhubung ini kota pulau, jelas makanan laut akan menjadi
sajian yang utama.Pantai_amal Dan untuk itu, percayalah saudara-saudara…Tarakan sangat
tidak mengecewakan!!! Kalau

Amal

dateng kesini, sempatkanlah mencicipi yang namanya
Warung Makan Kepiting Saos dan Pantai Amal. Sayang sekali kemaren gak sempet
mencicipi kelezatan kepiting saos ala Tarakan yang legendaris, tapi masih
sempet lah nyicipin hidangan seafood di pantai Amal yang panas tapi damai.

 

UdangkapahkelapaCoba
liatin hidangan yang disajikan di kedai sederhana tepat di pinggir pantai ini. Hmm…udang dan kerang lokal (namanya Kapah) yang segar hasil tangkapan tadi
pagi yang dibakar dan digoreng lengkap dengan saos kacang dan sambal. Minumnya es kelapa muda hijau yang baru
dipetik. Nyam Nyam. Udangnya gede2 banget kan?Beli kiloan, makan bertujuh sampe
mabok Cuma abis 200 rb-an!!

Udang_nyam

Terus apa kaitannya antara makanan Tarakan
dengan sejarah serta budaya lokal? Apa ya. Selain nunjukin ciri maritim plau
ini, bingung gw. Maaf ya pembaca, bukan maksud saya untuk tidak konsisten dengan
outline dan tujuan penulisan, tp Udah kelamaan ngetik dan upload foto nih jadi
males mikir, hehe. Lagipula ngomongin makan mulu jadi laper…belum makan siang
nih.
Hmm…makan apa ya.?:):)

Okey,
sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya!

Kombinasi indah tapi penuh amunisi yang mematikan

June 11th, 2006 by jtraharjo

Kuat sekali. Kokoh bagaikan batu karang saudara-saudara.
Tangguh, cepat, tajam. Belanda dan Argentina telah mengirimkan pesan yang
sangat jelas bagi lawan-lawannya akan kekuatan yang mereka miliki. Argentina
kemarin mutlak mendominasi permainan. Walaupun Pantai Gading melawan dengan
gigih dan layak dihormati, Argentina tetap unggul di semua lini. Permainannya
bagai air, sulit ditebak, mengalir dengan ritme yang indah, namun tajam
mematikan. Strikernya dahsyat, lihat aja Crespo dan Saviola (jangan tanya cadangannya:
Tevez, Messi). Gelandangnya gemilang, terutama Riquelme. Tentu saja Brasil nanti akan tidak mau
kalah. Kita tunggu juga bagaimana Italia menunjukkan kelasnya. Sayang sekali
Jerman tanpa Ballack tampil kurang solid, dan Inggris bermain terlalu kaku.
Ibaratnya pendekar tua yang terlalu yakin akan ketangguhan jurus-jurusnya,
padahal jurus itu sudah lama diketahui orang kelemahan2nya. Erikson gegabah
sekali tidak membawa Shaun Wright-Phillips yang mampu mendobrak kebuntuan
dengan meluncur cepat dari sayap kanan untuk mengobrak abrik pertahanan lawan.
Permainan inggris terlalu monoton. 4-4-2 standar dengan 4 bek dan 4 gelandang
berdiri sejajar, lalu 2 striker di depan. Nggak ada variasi serangan, tukar
menukar posisi yang dinamis, sungguh menyedihkan. Cuma mengandalkan umpan-umpan
silang sporadis dan tembakan para gelandang dari lini kedua. Berbeda sekali dengan
Belanda. Penampilannya sungguh menakutkan. Semua pemain berusaha selalu menekan
dengan segala kreatifitas. Jangan lupakan Arjen robben yang sendirian mampu
membuat kocar kacir pertahanan Serbia, salah satu yang paling tangguh di Eropa
saat babak kualifikasi. Van Nistelrooy dijaga terlalu ketat semalam, tapi
yakinlah, sekali dia dapat lolos, petaka bagi gawang lawan. Van Persie sama
meyakinkan dengan Robben di kanan. Trio penyerang ini sejauh ini adalah kmbinasi yang paling kreatif, dinamis, dan mematikan di Piala Dunia. Tak kalah menakutkan dibanding kuartet magic Brasil (Roanldo, Ronaldinho, Kaka, dan Adriano). Trio gelandang Bommel, Cocu, dan Sneider
bermain lugas tanpa basa basi, maen hajar aja di tengah tanpa ampun, sebelum
mengirim terobosan2 yang manis ke depan. Inget lho Van der Vaart belum maen! Kuartet bek muda belia (kecuali van
Bronchost yang udah cukup berpengalaman) bermain sangat disiplin dan tak kenal
kompromi. Ugh, sungguh indah dilihat. Gak sabar nih lihat mereka ktmu Argentina
nanti. The real final di babak penyisihan grup?

An Inquiry Into the Nature of The Most Complicated Creature

March 6th, 2006 by jtraharjo

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Women are the most mysterious creatures
in the world, indeed. Agree? U’ll never  know what’s whirling
around their head. Sometimes you feel they are right inside your
arms, but actually they are running away. When U think U are far, all
of a sudden they are just getting closer, and even, more. U will
never be able to squeeze their pattern of attack. Too much stunned,
puzzles, and contradictions all together. Against them, U can’t
trust your brain. U can’t trust your instinct. U can’t trust your feeling. Gosh. Oh God, please
help me to understand the nature of this beautiful complicated
creature????

JOmblo, the movie

February 19th, 2006 by jtraharjo

huahaha…Jomblo, the movie. Lucu..lucu. Menyegarkan. Apalagi akting yang meranin karakter Bimo. Natural banget. Sayang si olip dan doni aktingnya terlalu jaim. padahal si olif diceritakan berasal dari Tarnus tuh, hehe.  Jadi inget masa-masa kuliah dulu. Waktu di asrama, kost 3dara (kutek). Those best times..so memorable.

Friendship vs love. Isu klasik itu yang ingin diusung film ini (dan juga bukunya). BAca bukunya pas kuliah tingkat 4, sSejak awal emang udah gak suka sama endingnya. Masa persahabatan bubar cuma karena cewek? c’mon man. Mengecewakan. Bukan laki-laki sejati. Ada kode etik dalam mendekati cewek. Jangan pernah sekalipun main api, ngedeketin:

1. Pacarnya sahabat

2. Gebetan/pujaan hati sahabat

3. Mantannya sahabat

4. Adiknya sahabat (kalo ini masih boleh lah kalo emang mau serius)

Ngorbanin perasaan temen (sahabat ya..), cuma buat seorang cewek, itu pantangan no 1. Kmu boleh se-playboy apapun, segila apapun, asal jangan nyentuh pantangan di atas. Kalo terpaksa muncul benih2 asmara, bunuh perasaan itu dari awal. Masih banyak kok cewek yg lain….:). So, kembali ke film, karakter si doni itu emang tipe penjahat sejati. Tidak ada nilainya sama sekali.

Anyway, film yang bagus. highly recommended.

Valentine’s Day

February 13th, 2006 by jtraharjo

<!–
@page { size: 8.27in 11.69in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Seorang mahasiswa saya di kelas Sejarah
Pemikiran Ekonomi menulis dalam paper akhir-nya, bahwa kapitalisme
harus dipahami sebagai sebuah modus eksistensi. Sebuah cara hidup
untuk eksis, more than just merely mode of production seperti
yang dikatakan oleh Karl Marx. Itulah sebabnya –dengan hubungan
antar manusia yang disimplifikasikan secara sederhana sebagai
hubungan buruh dan pemodal-, ramalan Marxis terhadap perjalanan
kapitalisme dalam sejarah lebih banyak menemui kegagalan.

Bahwa kapitalisme berhasil
mentransformasikan diri menjadi supreme ideology, dengan
paham-paham lain yang mencoba menantangnya akhirnya bahkan hanya
menjadi sebuah sub-ideologi di bawah bendera kejayaan kapitalisme,
antara lain nampak sekali dalam bagaimana modal membentuk citra akan
hari Valentine.

Bayangkan, ketika sebuah nilai emosi
seperti kasih sayang berubah menjadi sebuah komoditi. Hampir seluruh
agen-agen dalam sistem ini bekerja keras membentuk citra Valentine
untuk dapat menuai profit dari penjualan “komoditi” ini secara
maksimum. Tak terbilang produk-produk inovatif yang tercipta
menyambut momen ini, termasuk yang intangible seperti atmosfir
valentine di café-café dan acara televisi.

Kemampuan inovasi dan akulturasi dengan
nilai-nilai (values) bahkan juga nilai yang lekat dengan emosi
dan bernuansa spiritual, memang adalah salah satu intisari yang
menjawab pertanyaan kenapa kapitalisme dapat terus mengembangkan
diri. Akhirnya tanpa kita sadari, kepentingan modal lah yang pada
ujungnya menjadi muara dari segenap tindakan kita, bahkan dari
segenap nilai-nilai yang kita perjuangkan. Kapitalisme telah menjadi
sebuah modus eksistensi. Untuk hidup, untuk eksis, untuk
beraktualisasi diri, kita tergantung pada kepentingan modal.

Saya menghabiskan “malam Valentine”
semalam dengan rekan-rekan volunteer WWF. Awalnya rapat persiapan
akhir di Bakoel Coffe Cikini untuk acara kampanye hemat energi minggu
depan. Tapi akhirnya nongkrong sambil lesehan dan makan nasi goreng
di depan TIM. Malam yang menyenangkan, penuh dengan obrolan seru dan
gelak tawa. Quite refreshing setelah beberapa hari terakhir
sibuk dengan proposal riset, cari bahan buat nulis di jurnal,
persiapan ngajar (minggu kemaren diminta jadi dosen tamu di Fisip UI
tentang masalah pengukuran kemiskinan), dan ngerjain laporan
penelitian. Sempat terpikir untuk mengirim SMS Valentine (gombal) ke
beberapa gebetan berisi rayuan maut ala Joko (hehe..), tapi untung
lah dari tadi siang Xplor gw udah overlimit (lagi, kesekian kalinya
bulan ini! Gosh!!), gak bisa keluar, sehingga selamat deh dari
jebakan kapital…haha….

My Love to come…

September 24th, 2005 by jtraharjo

As is the case of textbook or chili, LOVE is hopefully better the second time around. Now I’m consider my self to be very lucky for had been living through the so-thoughtful love experiences elapsed. So I am happy at the moment to declare that I feel so secure about this ‘ancient feeling’, even though currently none of those emotion distinctively refers to one specific soul-being…

……….

Fitri & dodi, my very nice officemates, had been successfully poisoning me with the beauty of Stevie Wonders’s “Isn’t she lovely” and “Overjoyed”, but still I couldn’t figure out for whom their lyrics will be dedicated. I made a nice gift to someone, but to be very honest, I am not too convinced yet to take any steps further afterward. There are few attractive platonic relationships, but they should not deem to be that serious whatsoever. However, quite strangely, I enjoy the situation pretty well…

………

I think maybe love is just another reality in life…For which we do ask questions, challenging its mysteries, enigmas, puzzles; and subsequently we find the patterns, from which we make inference….(to be is to be perceived?). And again, succeeding inference I believe would produce better result, at least with less statistical errors :p.

…………

SunsetSo, as some part of Bill Whither’s saying, that on this window down the hall, I still hear the crystal raindrops fall (and then I see the morning sun)…; My Love is truly will be much better the second time to come…..

Natalie….

September 9th, 2005 by jtraharjo

Deep condolences to all family and friends of the victims of Mandala plane crash occurred in Medan, 5 Sept 2005, especially for relatives of my very dear friend, Natalia Magdalena Sitanggang. She was among the victims of the so tragic accident, and I almost could not forgive my self not for having such an intense contact with her since she was graduated a year ago.

I was terribly shocked, deeply miserable to hear the news; …. just cannot believe that young brilliant sweet nice girl had leaving us earlier, out of the blue. Natalie (or Natsi she was popularly called), was my junior in SMU Taruna Nusantara Magelang. She was renowned for her tough and discipline. She was member of Tonpara (Paskibra), the school’s elite. Afterward she moved on to economics department in University of Indonesia. We’ve been hand in hand running Kanopi, the student’s organization, at that time. She was so exceptional indeed, for her academic achievement in the midst of all her activities. She graduated cum laude!!

Actually she was expected to pursue master degree in France (she gained scholarship from TOTAL, waw, what an accomplishment sis!), and planned to depart on Wednesday(!), two days after the accident happened. Natalie, in her inherently jovial spirit, went to Medan to say goodbye to her families. She was about to celebrate her success together with her beloved in her hometown. On the day the plane was about to crash, she was in a hurry, because she was awaited in campus to sign contract prior to her leaving to France. But God has another plan…..and it was turn out to be the end of her promising short-life.

Goodbye Natalie…God bless you. And we all love you………

Laut….

September 3rd, 2005 by jtraharjo

He2 kemarin lihat petualangan bahari. KEnapa ya setiap melihat laut jantung ini selalu berdebar lebih keras dari biasanya? Ada sesuatu yang bergolak. Ada adrenalin yang dicetak berlebih dalam sesaat. Gw rindu laut. Gunung bikin ngantuk dan buat gw bersin-bersin. Udara laut segar dan ada banyak binatang laut yang enak, lezat, dan berprotein tinggi, hehe.

Mungkin karena ombaknya. Gw suka mendengar suara pecahan ombak di pinggir pantai atau batu karang. Suaranya indah berirama teratur, namun gagah berdentum-dentum. Atau karena suasana malam di pinggir pantai? Sungguh, apapun kondisi bulan di atas sana, duduk di atas pasir pinggir pantai malam2 di bawah nyiur dan diiringi dentuman ombak dengan sahabat2 terbaik mu adalah kondisi paling ideal yang ada di muka bumi untuk berbicara bebas tentang segala hal.

                

Atau bisa jadi juga karena di laut kamu bisa memandang dengan bebas jauh sampai ke batas kaki langit sana. Tanpa terhalang apapun. Tegak menantang. Merasakan kehebatan leluhur gw dulu, yang dengan jiwa dinamis dan keluasan wawasannya, pergi sampai jauh meninggalkan kepicikan sangkar pedalaman, untuk bergulat dengan dunia tanpa batas, sampai akhirnya arus dari utara berbalik dengan dahsyatnya, menggulung nusantara yang tak sanggup menangkal karena sedang dilanda keterpecahan, kedangkalan, dan nafsu saling menguasai di antara sesamanya. Membayangkan kapal-kapal samudera Majapahit berbendera kupu-tarung yang dulu pernah menguasai bumi bagian selatan (Akh, kebanyakan baca Arus Balik!!!haha. Tapi pernah kok dalam suatu momen gw merasakan spirit Senapatiku, Wiranggaleng :p. Waktu berdiri di pinggir laut Tuban, 8 atau 9 bulan yang lalu. Malam-malam. Melihat sisa-sisa pelabuhan laut  Tuban yang kini terlantar. Padahal saking bagusnya pelabuhan alami di sana, Tuban menjadi salah satu tempat pendaratan tentara JEpang di JAwa tahun 1942, selain Eretan Indramayu dan Bojonegara di Banten.).

Tapi gw rasa bukan bikini dan hot-sexy-sunbathing galz yang buat gw rindu sama laut (haha, teman2 gw pasti akan langsung mencibir kalau baca kalimat barusan). TEnang guys, gw bukannya hipokrit. Kalau itu mah di mana-mana juga ada. Tapi kan kita sekarang sedang berbicara soal the decisive factors (cieee..). Gw suka suara dentuman ombak, pasir, kelapa, perasaan bebas saat melontarkan pandangan jauuuhh sampai ke kaki langit, perasaan bergairah ketika berbicara tentang segala hal waktu malam-malam di pinggir pantai.

Ah, gw rindu laut. Pengen merasakan lagi rasa waktu timbul tenggelam dihajar ombak padahal cm pengen menaikinya untuk meluncur sampai pinggir lagi. Pengen ngerasain pasir (gak harus putih kok!) yang menghangatkan di waktu siang dan menyejukkan di waktu malam. Mengagumi keperkasaan Samudera Hindia dari atas karang di savanna Pulau Sumba. Dulu ke Manado gak bisa ke Bunaken karena cuaca buruk, ah sial. Pengen ngerasain lagi udara laut yang segar dan berbau garam. Pengen merasakan goyangan kapal, mendengar sapaan terompet waktu dua kapal berpapasan, kilau keemasan pada riak laut karena terpantul cahaya bulan, merasakan selat Sunda, Gilimanuk-Ketapang, atau Sunda Kelapa-Pontianak lagi. Pengen ke Banda, Maluku, Lombok, Mentawai, Sabang.

Ah, gw rindu laut. Suer.

keindahan 2

July 14th, 2005 by jtraharjo

Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwa.
Kepadanya cinta diberikan, bukan diminta…

————
(yang ini inget, dari kahlil gibran. Untung belum di-PLAGIAT sama Dhani DEWA!!:>>)

keindahan 1

July 14th, 2005 by jtraharjo

Engkau telah menghiasi hatiku dengan keindahan yang tubuhku tak sanggup menampungnya…

Walau hatiku ingin menyangganya, karena kekuatan dan harapan menjadi pilar-pilarnya.

Tapi ah, sanggupkah aku bersaing dengan para pemburu? yang menginginkan mu walau hanya untuk berbisik di telinga? atau melihatmu dengan mata…

——

(dari sebuah puisi karya sufi abad 13 -namanya lupa! baca waktu kuliah tingkat dua!:p)